Senin, 02 Februari 2026

Apa itu Nipah Virus?

Apa itu Nipah Virus?

Nipah virus adalah virus zoonotik (nular dari hewan ke manusia) dari keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus. Case fatality rate? 40–75%, tergantung wabah dan respons sistem kesehatan. Ini bukan flu musiman, ini board-level risk di dunia kesehatan global.

 

 I.       Reservoir & Sumber Penularan

Reservoir alami utama: Kelelawar pemakan buah (Pteropus spp.) — ini key player-nya.

Jalur penularan:

1.    Hewan → manusia

·         Konsumsi buah / nira kurma sawit mentah yang terkontaminasi liur atau urin kelelawar

·         Kontak dengan hewan terinfeksi (terutama babi — amplifier host)

2.    Manusia → manusia

     Kontak erat: cairan tubuh, droplet, perawatan pasien tanpa APD

Fun fact : Nipah bisa menular antarmanusia, beda kelas sama banyak zoonosis lain.

 

II.     Gejala Klinis (Spektrum Berat)

Masa inkubasi: 4–14 hari (bisa sampai 45 hari). Gejala awal (tipikal tapi sering diremehkan):

·         Demam

·         Sakit kepala

·         Nyeri otot

·         Mual, muntah

Gejala berat (red flag):

·         Ensefalitis akut

·         Disorientasi

·         Kejang

·         Penurunan kesadaran → koma

 

III.          Diagnosis

           Nggak bisa asal rapid test. Metode utama:

     ·         RT-PCR (darah, CSF, urine, swab tenggorok)

     ·         ELISA (IgM/IgG)

     ·         Isolasi virus (level biosafety tinggi)

 

IV.          Terapi & Pengobatan

           BELUM ADA antivirus spesifik atau vaksin komersial.

           Manajemen saat ini:

·         Supportive care intensif

·         Manajemen komplikasi neurologis & respiratorik

·         Ribavirin? Pernah dicoba, evidence-nya lemah

Good news (future-looking):

·         Vaksin berbasis Hendra/Nipah lagi dikembangkan

·         WHO masukkan Nipah dalam priority disease list

 

V.         Pencegahan 

         Level individu & komunitas:

·         Jangan konsumsi buah jatuh atau nira mentah

·         Tutup wadah nira (biar nggak jadi buffet kelelawar)

·         Higiene ketat

    Level peternakan & karantina (ini core business kamu):

·         Biosekuriti ketat pada babi

·         Surveillance penyakit strategis

·         Pembatasan lalu lintas hewan saat kejadian luar biasa

·         Edukasi peternak (ini sering jadi bottleneck)

 

VI.          Risk Profiling & Early Warning (Deteksi Dini)

            Mindset: Detect early or die later.

1.  Mapping risiko wilayah: Fokus: area dengan populasi Pteropus tinggi, sentra babi, dan konsumsi nira mentah.

2.      Surveilans aktif

·         Hewan: babi, kelelawar (sentinel surveillance).

·         Manusia (koordinasi Kemenkes): kasus ensefalitis akut yang “aneh”.

3.    Integrasi data: Karantina ↔ Dinkes ↔ BKSDA ↔ Lab rujukan → satu dashboard

 

VII.          Penguatan Biosekuriti Lalu Lintas Hewan

            Key principle: Stop the virus before it boards the truck.

1.       Pembatasan lalu lintas babi

·         Zona merah = freeze movement.

2.       Pemeriksaan pra-pengeluaran: Klinis + tracing asal ternak.

3.       Disinfeksi wajib: Kendaraan, kandang, alat angkut = non-negotiable.

4.       Quarantine holding: Jangan langsung dilepas ke pasar/daerah tujuan.

 

VIII.      Kontrol di Pintu Masuk Negara

            Airport & seaport = firewall nasional.

1.       High alert untuk negara endemis: Screening dokumen + pemeriksaan fisik.

2.       Larangan pemasukan berisiko: Hewan hidup, produk segar tertentu saat outbreak.

3.       APD & SOP ketat: Karena NiV = BSL-4.

 

IX.            Kapasitas SDM & Laboratorium 

            No skill, no control.

1.     Pelatihan spesifik Nipah: Pengenalan klinis, biosafety, outbreak response.

2.     Jejaring lab rujukan: RT-PCR NiV (nasional & internasional).

3.     Simulasi KLB: Table-top exercise, bukan cuma wacana.

 

X.              Edukasi & Komunikasi Risiko

            Virusnya liar, tapi masyarakat jangan clueless.

1.       Peternak babi: biosekuriti kandang, lapor cepat kematian abnormal.

2.       Masyarakat umum: jangan konsumsi nira mentah, buah jatuh.

3.       Media handling: Transparan, cepat, tanpa bikin panik.

 

XI.           Pendekatan One Health (Ini Wajib, Bukan Opsional)

            Nipah = lintas sektor by default.

1.       Karantina – Kesehatan – Lingkungan – Pemda

2.       SOP bersama saat KLB

3.       Sharing data real-time, bukan nunggu disposisi.


Kamis, 15 Januari 2026

Peste des Petits Ruminants (PPR): Penyakit Kambing yang Bisa Bikin Peternakan Kolaps

Pernah dengar Peste des Petits Ruminants (PPR)? Namanya memang ribet, tapi dampaknya sederhana: kambing dan domba bisa mati massal. Penyakit ini dikenal juga sebagai wabah kambing, dan di banyak negara sudah terbukti bikin sektor peternakan rontok dalam waktu singkat.

Kabar baiknya, Indonesia masih bebas PPR. Kabar buruknya, penyakit ini sudah ada di banyak negara sekitar kita. Jadi posisinya jelas: kita aman, tapi belum tentu selamanya.

Apa Sih PPR Itu?

PPR adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Target utamanya kambing dan domba—dan kambing biasanya paling parah kena dampaknya.

Gejala PPR mudah dikenali:

  • Demam tinggi

  • Mata dan hidung berair

  • Mulut luka, jadi susah makan

  • Diare hebat

  • Sesak napas

  • Banyak kasus berujung kematian

Di wilayah yang belum pernah kena, angka kematiannya bisa sangat tinggi. Artinya, sekali masuk, penyebarannya cepat dan kerugiannya langsung terasa.

Kenapa Indonesia Harus Waspada?

Indonesia itu “surga” buat PPR kalau kita lengah.

Pertama, populasi kambing dan domba kita besar dan tersebar di mana-mana. Kedua, lalu lintas ternak antarwilayah sangat aktif—apalagi jelang hari raya. Ketiga, sebagian besar ternak dipelihara skala kecil dengan biosekuriti seadanya.

Kalau PPR masuk:

  • Peternak kecil paling dulu kena dampaknya

  • Harga ternak bisa anjlok

  • Distribusi ternak bisa dibatasi

  • Negara rugi, peternak lebih rugi lagi

Singkatnya: ini bukan sekadar isu kesehatan hewan, tapi isu ekonomi rakyat.


Kalau PPR Masuk ke Indonesia, Apa yang Harus Dilakukan?

Responsnya harus cepat dan tegas. Tidak bisa pakai mode santai.

1. Cepat Tahu, Cepat Bertindak

Begitu ada ternak yang menunjukkan gejala mencurigakan, petugas harus langsung bergerak. Sampel diuji di laboratorium, hasilnya tidak boleh berhari-hari.

Dalam wabah, waktu adalah segalanya.

2. Pembatasan Lalu Lintas Ternak

Ternak dari wilayah terduga langsung dibatasi pergerakannya. Bukan untuk menyulitkan peternak, tapi untuk mencegah virus jalan-jalan lebih jauh.

Zona terinfeksi, zona penyangga, dan zona aman harus jelas.

3. Pemusnahan Terbatas dan Kebersihan Ketat

Ternak yang sakit dan berisiko tinggi bisa dimusnahkan untuk memutus rantai penularan. Berat? Iya. Perlu? Juga iya.

Kandang dan lingkungan wajib dibersihkan dan disemprot disinfektan. Virusnya kecil, tapi efeknya besar.

4. Vaksinasi Darurat

Vaksin PPR tersedia dan efektif. Dalam kondisi darurat, vaksinasi dilakukan di sekitar lokasi wabah untuk membentuk “tameng” penularan.

Ini bukan vaksin asal suntik—harus terencana dan diawasi.

5. Edukasi Peternak: Kunci Sukses Pengendalian

Peternak harus tahu:

  • Ciri-ciri PPR

  • Kapan harus melapor

  • Kenapa ternak tidak boleh dipindahkan sembarangan

Wabah sering gagal dikendalikan bukan karena virusnya, tapi karena informasinya tidak sampai.


PPR adalah ancaman nyata yang tidak boleh ditunggu sampai kejadian. Indonesia masih punya waktu untuk bersiap—memperkuat pengawasan, meningkatkan kesadaran, dan memastikan semua pihak siap satu barisan.

Pesannya simpel:
Lebih baik capek waspada daripada capek menyesal.


Potensi Masuknya Virus Nipah ke Indonesia: Peran Strategis Badan Karantina Indonesia dalam Pencegahan Dini

Potensi Masuknya Virus Nipah ke Indonesia: Peran Strategis Badan Karantina Indonesia dalam Pencegahan Dini   Ringkasan Eksekutif Virus...